
Di tahun 2025 ini, pengeluaran untuk kampanye iklan diperkirakan bisa mencapai 1 triliun dollar, di mana 700 miliarnya merupakan iklan digital. Namun, menggelontorkan uang dalam jumlah besar saja tidak cukup dan bukan jaminan untuk berhasil.
Maka dari itu tidak heran apabila ada contoh iklan efektif dan tidak efektif. Fenomena brand-brand besar mengguyur uang miliaran dollar untuk iklan bisa kita lihat di TV, di mana banyak sekali artis dan atlet ternama yang jadi bintang iklan suatu brand.
Beberapa memang ada yang efektif dan viral, tapi tidak sedikit juga yang jadi sia-sia. Oleh karena itu, MinTiv akan membahas contoh iklan efektif dan tidak efektif baik dari Indonesia maupun luar negeri.
Yuk simak ulasan berikut!
Daftar Isi
ToggleContoh Iklan Efektif
Kebanyakan iklan yang efektif dapat melampaui perannya lebih dari alat promosi belaka, tapi juga menjadi cerminan budaya, membangun emosional yang kuat dengan audiens, dan meningkatkan pertumbuhan bisnis. Nah, berikut ini MinTiv telah merangkum contoh iklan yang efektif:
1. Iklan Ramayana “Keren Lahir Batin”

Sumber: YouTube/Ramayana Department Store
“Kosong?”, “Astagfirullah”, “Kerja lembur bagai quda”. Apakah di sini masih ada yang ingat dengan potongan dialog dan lirik lagu dari iklan Ramayana tersebut? Namun, siapa yang menyangka jika iklan Ramayana ini akan menjadi viral, dan bahkan masih teringat oleh banyak orang sampai saat ini.
Di pertengahan tahun 2018 menjelang lebaran, layar kaca televisi Indonesia dijejali iklan yang berfokus pada keluarga, silaturahmi, dan pengampunan. Namun, lain hal dengan Ramayana. Berkat ide brilian dari sutradara Dimas Djayadiningrat, perusahaan ritel raksasa ini meluncurkan kampanye iklan dengan vibes yang jauh bertolak belakang yang bertajuk “Keren Lahir Batin”.
Kebanyakan iklan lain cenderung berusaha membuat penonton terharu dan menangis, tapi Ramayana justru membuat penonton tertawa terbahak-bahak lewat kombinasi humor surealis, musik kasidah, dan nuansa jadul era 90an. Fenomena ini jadi semacam bukti bahwa audiens sudah jenuh dengan tema iklan lebaran yang berputar-putar pada kebersamaan keluarga saja, sementara Ramayana dengan berani membalikkan semua itu.
Meski sangat ‘nyeleneh’ tapi pesan dari iklan ini justru sangat lugas dan jelas. Tujuannya adalah memposisikan Ramayana sebagai destinasi belanja yang ramah kantong bagi kelas menengah-bawah. Tajuknya pun sesuai tema lebaran, di mana konsumen bisa keren secara fisik dengan beli baju dari Ramayana, tapi sekaligus mendapatkan kepuasan batin lewat kerja keras dan membeli oleh-oleh untuk keluarga.
Humornya yang sangat absurd juga berperan menjadi semacam ice breaker. Lalu, iklan ini juga dengan cerdas memanfaatkan budaya lokal (kasidah) sebagai promosi. Walaupun polesan iklannya tidak sempurna, tapi Ramayana justru malah terbuka dan jujur akan hal itu. Terbukti iklan ini berhasil trending dan sudah ditonton hingga 16 juta kali dalam waktu singkat
Baca Juga: Contoh Story Board Iklan dan Cara Membuatnya
2. Dove: Real Beauty

Sumber: Dove .com
Di sini pasti sudah banyak yang tidak asing lagi dengan sabun kecantikan merek “Dove”. Namun, apakah Anda tahu jika Dove pernah mendobrak standar kecantikan secara global sejak tahun 2004? Saat itu, industri kecantikan dinilai menetapkan standar yang terlalu sempurna dan eksklusif. Beruntungnya, Unilever selaku induk perusahaan Dove melihat peluang ini.
Alih-alih hanya menjual sabun, Dove menjual ide untuk mendefinisikan ulang kecantikan. Kalau dari konteks saat itu, memang banyak orang yang insecure akan kecantikannya, yang ironisnya malah melariskan brand-brand kecantikan saat itu. Nah, Dove menciptakan persepsi di mana kecantikan adalah sumber percaya diri, bukan dari rasa tidak aman seperti pada umumnya.
Dove mengangkat isu tersebut untuk membangun hubungan emosional yang mendalam, yakni dengan menampilkan wanita dari berbagai usia dan etnis, sehingga konsumen akan lebih percaya diri. Langkah paling unik dari Dove adalah lewat proyek “Dove Self-esteem”, di mana Dove mensosialisasikan materi edukasi pada anak perempuan, orang tua, dan tenaga pengajar di seluruh dunia, untuk membangun rasa percaya diri pada tubuh dan wajahnya.
Kampanye iklan ini bisa-bisa dibilang merupakan disruptor di dunia kecantikan. Terbukti pada dekade pertamanya saja, penjualan global Dove meroket sampai 4 miliar dollar. Produk-produk terbaiknya juga mengalami lonjakan penjualan hingga 700%. Kampanye Dove ini merupakan salah satu basis dari berdirinya gerakan body positivity pada saat ini.
Contoh Iklan Tidak Efektif
Tanpa menyudutkan pihak manapun, tapi iklan yang tidak efektif sering kali gagal menangkap preferensi target audiens, dan itu bisa dinilai secara objektif. Setidaknya, ada yang bisa dipelajari dari beberapa contoh iklan yang kurang efektif berikut ini:
1. Shopee & Blackpink

Sumber: YouTube/CCL
Mungkin di sini ada yang masih ingat jika pada 2018 lalu, Shopee pernah berkolaborasi dengan Blackpink untuk mempromosikan event promo 12.12. Tidak bisa dipungkiri, Indonesia memang memiliki banyak generasi muda yang menyukai grup K-Pop, yang salah satunya adalah Blackpink. Namun, apakah segmen tersebut mewakili mayoritas demografi yang menonton iklan ini?
Di sinilah masalah mulai muncul, yakni ketika kampanye iklan ini disiarkan di media massa dan menjangkau seluruh spektrum masyarakat. Jika ada yang belum tahu, saat itu iklan ini menimbulkan kontra yang kuat di kalangan masyarakat dengan dalih tidak sesuai dengan norma dan budaya. Bahkan, ada petisi yang menuntut untuk menghentikan iklan ini, yang mana petisi tersebut mampu mendapatkan lebih dari 100 ribu tanda tangan dalam waktu singkat.
Meski sudah mendapatkan izin dan lulus sensor, tapi sayangnya iklan ini menimbulkan kontroversi, dan hampir merusak citra Shopee ketika itu. Bahkan KPI sampai menghentikan penayangan iklan ini pada jam-jam di mana banyak anak kecil yang menonton.
Di satu sisi, brand awareness Shopee memang melonjak, khususnya berdasarkan data Google Trends saat itu. Namun di saat yang bersamaan, Shopee juga harus menanggung kerugian bersih yang besar akibat iklan ini. Di luar bahasan etika dan moral, iklan ini menjadi pembelajaran bagi para marketer untuk lebih peka terhadap budaya lokal sebelum meluncurkan iklan.
Baca Juga: Iklan Efektif: Pengertian, Karakteristik & Strategi Membuatnya
2. Pepsi “Live For Now”

Sumber: YouTube/Marketing The Rainbow
Anda masih ingat dengan isu rasisme di Amerika Serikat, di mana ada pria berkulit hitam yang mendapat kekerasan fisik secara tidak adil? Kejadian tersebut menimbulkan gerakan Black Lives Matter (BLM) yang viral di sosial media. Tentu situasinya saat itu memanas, tapi Pepsi malah bermain api dengan meluncurkan iklan bertajuk “Live For Now” untuk mengangkat isu ini yang dibintangi model Kendall Jenner.
Jadi, iklannya menunjukkan Kendall Jenner mengambil sekaleng Pepsi, lalu dibagikan pada seorang polisi, kemudian disambut dengan sorak-sorai pengunjuk rasa seolah-olah masalah terselesaikan.
Sebenarnya pesannya memang bagus, yakni menyebarkan persatuan dan perdamaian. Sayangnya penyampaiannya kurang tepat dan gagal dalam membangun hubungan emosional yang positif, sehingga banyak orang yang menganggap Pepsi meremehkan isu ini.
Tentunya kredibilitas Pepsi sebagai perusahaan minuman soda sangat dipertanyakan karena berani mengangkat isu rasial yang rumit, tapi dikemas sesimpel mungkin. Pemilihan Kendall Jenner sebagai model juga dianggap kontroversial, karena ia merupakan pria kulit putih.
Dampaknya, Pepsi langsung menuai gelombang kritikan tanpa henti, sehingga iklan tersebut terpaksa harus ditarik peredarannya dalam waktu kurang dari 48 jam. Reputasinya juga anjlok ke level terendah dalam satu dekade terakhir, dan butuh waktu lebih dari sembilan bulan untuk pulih kembali. Bahkan banyak yang menganggap iklan ini adalah kegagalan terbesar di dunia advertising pada abad 21.
FAQ Seputar Konten
- Apa yang membuat iklan viral meski sekilas tampak biasa saja?. Rahasia utama iklan bisa viral adalah jika mampu membangun hubungan emosional dengan konsumen atau dengan memanfaatkan elemen budaya lokal.
- Apakah kontroversi adalah hal yang buruk dalam iklan?. Kontroversi memang bisa memancing perhatian dan meningkatkan brand awareness, tapi juga berpotensi menyinggung norma yang ada.
- Sepenting apa hubungan emosional pada iklan?. Salah satu bahan bakar utama dari iklan yang efektif adalah hubungan emosional dengan audiens entah lewat humor, nostalgia, pemberdayaan, dll.
- Apakah iklan viral selalu dapat meningkatkan penjualan?. Suatu iklan bisa saja jadi perbincangan hangat, tapi jika tidak cocok dengan target audiens, maka kemungkinan penontonnya tidak akan terkonversi jadi pembeli.
- Mengapa konteks budaya sangat penting pada iklan?. Konteks budaya akan menentukan bagaimana pesan dalam iklan akan diinterpretasikan. Suatu iklan bisa efektif di satu negara, tapi juga bisa jadi menyinggung di negara lain.
Dapatkan Free Audit
Sebelum kita sampai kepada kesimpulan dari pembahasan “Contoh iklan efektif dan tidak efektif” ini, MinTiv ingin menginfokan kepada Anda, bahwa Creativism sedang ada jasa Free Audit Website.
Bagaimana cara mendapatkannya?
Anda cukup klik tombol Free Audit, kemudian isi detail formulirnya. Hasil audit akan kami kirim via whatsapp/email.
Kesimpulan
Demikian pembahasan seputar contoh iklan efektif dan tidak efektif baik dari dalam atau luar negeri. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari contoh-contoh di atas, khususnya seputar pemahaman konteks budaya dan isu, serta berani berpikir out-of-the-box. MinTiv harap contoh yang diberikan bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Semoga sukses!
Artikel ini, dikreasikan oleh Tim Agency SEO Creativism. Agency SEO yang siap berikan pelayanan SEO terbaik dan lengkap sesuai dengan kebutuhan website klien. Hubungi kami langsung melalui WhatsApp 6281 22222 7920, untuk dapat layanan Jasa SEO Website Terbaik, segera!.


