Ketika membuka website/blog pribadi atau milik perusahaan, biasanya kecepatan loadingnya lebih singkat, khususnya saat membuka laman “tentang kami”. Namun saat membuka website portal berita yang isinya terus berganti-ganti, waktu loadingnya akan lebih lama.
Meskipun tidak banyak orang awam yang menyadari, tapi hal ini benar adanya. Lantas, mengapa bisa demikian? Jawabannya ternyata terletak pada perbedaan antara website statis dan dinamis.
Mungkin saat 20 tahun lalu, ketika suatu web masih benar-benar sederhana, masalah ini tidak menjadi suatu perdebatan serius. Wajar saja, karena kebanyakan website saat itu masih bersifat statis dan tidak banyak berubah. Lain halnya dengan web dinamis yang isinya lebih kompleks dan terus update seiring waktu.
Nah, kebetulan kali ini MinTiv akan membahas lengkap perbedaan antara web statis dan dinamis. Yuk simak ulasan berikut!
Daftar Isi
ToggleApa Itu Website Statis?
Website statis memiliki ciri khusus yang lebih sederhana untuk dibuat, yang mana isi kontennya akan selalu sama setiap saat dan siapapun yang melihatnya. Walau demikian, isinya tetap bisa diubah secara manual.
Tipe web seperti ini cocok untuk keperluan bisnis dengan kebutuhan konten yang sedikit, sehingga biayanya jauh lebih hemat dan operasionalnya juga lebih mudah.
Umumnya, web statis bisa dibuat dengan bahasa pemrograman front-end saja seperti HTML dan CSS. Bahkan, saat ini sudah banyak template dan website builder yang memungkinkan kita untuk membuat web statis sendiri.
Apa pun yang diunggah ke dalam web akan terlihat sama ke depannya. Jenis web ini lebih sebaiknya dibuat untuk konten yang menampilkan informasi saja, bukan foto atau video.
Apa Itu Website Dinamis?
Di sisi lain, website dinamis memiliki konten yang senantiasa diupdate secara real-time dengan tampilan yang interaktif.
Web jenis ini biasanya lebih cocok untuk portal berita atau toko online yang tampilannya lebih terpersonalisasi ke setiap audiens yang mengunjungi laman tersebut. Kompleksitas website ini jauh lebih tinggi karena semua kontennya tersimpan dalam database. Lalu, setiap trafik yang keluar-masuk pada database akan ditangani oleh CMS seperti WordPress.
Bahasa pemrograman yang dibutuhkan untuk membuatnya juga lebih bersifat back-end seperti Python atau Ruby untuk menjalankan server dan menyimpan API.
Baca Juga: Rekomendasi Jasa Pengelolaan Website, Di Sini Tempatnya!
Perbedaan Website Statis dan Dinamis
Bagi yang masih awam di dunia pemrograman web, sekilas tampilan semua jenis laman terlihat sama saja. Hal itu disebabkan karena kebanyakan perbedaannya lebih banyak terjadi di servernya, yang tentu saja tidak terlihat oleh kita. Padahal, ada beberapa aspek yang membedakan keduanya:
1. Fungsi
Website statis memiliki fungsi yang jauh lebih terbatas, di mana konten yang ditampilkan akan sama saja setiap dikunjungi oleh audiens. Sedangkan website dinamis memiliki konten yang selalu berubah-ubah seperti pada landing page, barang yang dicheckout dalam keranjang, sistem pembayaran, dll.
Salah satu cara termudah untuk mengetahui perbedaannya adalah dengan melakukan refresh pada halaman tersebut. Jika tampilan laman berubah, maka bisa dipastikan itu merupakan web dinamis. Namun, tetap saja konten yang ada pada suatu web tidak mungkin untuk diupdate setiap saat, kecuali untuk media massa.
2. Coding
Website statis biasanya dibuat dengan bahasa pemrograman front-end seperti HTML, CSS, dan JavaScript. Alasan disebut sebagai front-end adalah karena ketika pengunjung melihat konten pada web statis, maka pada dasarnya mereka memang melihat kode tersebut.
Karena kode yang digunakan juga bersifat statis, maka tampilannya tidak akan berubah, kecuali jika sengaja diubah secara manual oleh developernya. Tentu saja website dinamis juga memiliki konten yang ditulis dengan bahasa front-end. Namun, konten tersebut tidak akan bisa terlihat tanpa ada domain dan server yang menaunginya.
Karena itulah web ini memerlukan kodingan tambahan dari bahasa back-end, terutama PHP, Ruby, dan Python untuk mengumpulkan dan menyimpan API nya.
3. Sistem Registrasi
Hampir semua web yang memiliki sistem registrasi adalah website dinamis. Ibaratnya seperti otak yang menyimpan semua ingatan, maka website dinamis juga memiliki otak yang disebut server dan database.
Jadi saat melakukan registrasi atau pengisian formulir, data seperti nama, email, dan password semuanya akan tersimpan secara rahasia di dalam server. Maka tidak heran jika website dinamis akan langsung menyapa Anda sesaat setelah login.
Sementara itu, website statis bekerja layaknya poster/flyer, yang isinya hanya konten tapi tidak bisa mengingat apa-apa karena tidak memiliki server. Oleh karena itu, tidak sedikit ada website penipuan dengan kedok registrasi, yang sebenarnya merupakan website statis.
Ketika seseorang memasukkan email dan passwordnya, data tersebut tidak akan masuk ke dalam server, tapi langsung ke email atau catatan si pemilik web palsu tersebut.
4. Kompleksitas
Website dinamis jauh lebih kompleks karena memiliki penyusun yang dinamis pula seperti konten, kode, database, dan aplikasi web. Di sisi lain, web statis hanya berisi konten tetap yang tidak berubah-ubah.
Walau agak mengejutkan, tapi nyatanya website statis lebih aman dari hacker. Hal ini disebabkan karena web statis tidak memiliki server dan interaksinya sangat minim, sehingga sedikit sekali informasi yang bisa diretas.
Sedangkan website dinamis yang lebih kompleks nyatanya memiliki banyak celah untuk diretas. Oleh karena itulah isu keamanan pada website dinamis harus jauh lebih diperhatikan.
FAQ Seputar Konten
- Apakah suatu website bisa menjadi statis dan dinamis sekaligus?. Website yang bersifat dinamis dan statis secara bersamaan disebut dengan website hybrid. Contohnya, halaman depannya mungkin bersifat statis agar loadingnya lebih cepat untuk audiens. Namun, pada halaman produknya akan menggunakan fitur yang dinamis agar lebih update.
- Website jenis apa yang lebih bagus untuk SEO?. Baik web statis atau dinamis sama-sama berpotensi untuk SEO-friendly. Karena itu banyak website yang bersifat hybrid agar loadingnya lebih cepat, tapi tampilannya lebih interaktif, yang keduanya bagus untuk SEO.
- Apakah website dinamis harus dibuat dengan WordPress?. Meskipun banyak web dinamis yang dibangun dengan CMS seperti WordPress atau Drupal, tapi hal tersebut bukanlah suatu keharusan. Dengan segala kompleksitasnya, web ini benar-benar bisa dibangun dari dasar dengan kerangka pemrograman back-end seperti Django atau Laravel.
- Apakah website dinamis bisa diubah menjadi statis?. Ada beberapa tools yang dapat mengonversi konten yang dinamis menjadi file statis untuk alasan performa dan keamanan seperti Gatsby atau Next.js. Proses konversi ini disebut sebagai Static Site Generation (SSG).
- Bisnis seperti apa yang sebaiknya menghindari penggunaan web statis?. Jika bisnis Anda mengharuskan registrasi, pengisian formulir, update konten atau produk secara real-time, serta transaksi jual beli, maka jangan pernah menggunakan website statis.
Baca Juga: Strategi SEO untuk Website Portofolio, Ini Dia 5 Tipsnya!
Dapatkan Free Audit
Sebelum kita sampai kepada kesimpulan dari pembahasan “Statis dan Dinamis” ini, MinTiv ingin menginfokan kepada Anda, bahwa Creativism sedang ada jasa Free Audit Website.
Bagaimana cara mendapatkannya?
Anda cukup klik tombol Free Audit, kemudian isi detail formulirnya. Hasil audit akan kami kirim via whatsapp/email.
Kesimpulan
Nah, setelah membaca ulasan di atas, Anda tidak perlu bingung lagi membedakan antara website statis dan dinamis. Baik dari sisi kode, kompleksitas, dan keamanannya pun sangat berbeda. Jadi, MinTiv berharap agar kita semua tidak terjebak lagi pada web yang memiliki sistem registrasi, tapi nyatanya bersifat statis.
Artikel ini, dikreasikan oleh Tim Agency SEO Creativism. Agency SEO yang siap berikan pelayanan SEO terbaik dan lengkap sesuai dengan kebutuhan website klien. Hubungi kami langsung melalui WhatsApp 6281 22222 7920, untuk dapat layanan Jasa SEO Website Terbaik, segera!.




