
Medium vs Substack. Salah satu strategi SEO yang banyak diterapkan oleh pebisnis, adalah blogging. Biasanya, blogging dilakukan pada website utama yang mereka miliki. Tapi, tidak sedikit pula yang menjalankan strategi ini, sebagai bagian dari metode Off Page SEO. Ya, blogging dilakukan pada platform lain, dan kemudian dari platform lain tersebut, backlink ditanamkan.
Ada banyak platform blogging yang bisa Anda gunakan untuk kegiatan penanaman backlink seperti ini. 2 di antara banyak platform blogging tersebut adalah Medium dan juga Substack. Anda yang sudah malang melintang dalam dunia blogging, pastinya sudah tahu tentang apa itu Medium.

Sumber: Medium.com
Medium adalah platform blogging yang didirikan oleh mantan CEO Twitter, Evan Williams, bersama dengan 2 mantan Co-Founder Twitter lainnya yakni Biz Stone, dan juga Jason Goldman. Medium pertama kali diluncurkan pada Agustus 2012, dan ditujukan untuk dapat memudahkan pengguna menulis dan menerbitkan artikel dengan mudah, dengan bentuk tulisan yang lebih mendalam dan punya tampilan yang sangat rapi.

Sumber: Substack.com
Lalu, bagaimana dengan Substack?. Dibandingkan dengan Medium, Substack mungkin jarang terdengar di telinga Anda. Substack adalah platform blogging yang didirikan oleh Christ Best, salah satu pendiri dari Kik Messenger, bersama dengan Jairaj Sethi, pengembang utama dari Kik Messenger dan Hamish McKenzie, mantan reporter teknologi PandoDaily.
Sama seperti Medium, Substack memiliki tujuan untuk dapat membantu pengguna menulis dan menerbitkan artikelnya sendiri dengan mudah. Perbedaannya, Substack memiliki tujuan spesifik lain, yakni dapat membantu penulis melakukan kegiatan monetisasi dengan mudah.
Baca Juga: Bagaimana Cara Mengoptimalkan SEO untuk Platform Medium?
MinTiv sendiri menggunakan kedua platform ini untuk strategi backlink. Lantas, manakah yang lebih baik antara, Medium vs Substack?. MinTiv akan mengupasnya lengkap di dalam artikel ini, jadi silahkan simak baik-baik ya!.
Daftar Isi
ToggleMedium vs Substack, Mana yang Lebih Baik untuk Anda?
Sama seperti pembahasan kita sebelumnya tentang WordPress vs Blogspot, di sini kita juga akan menggunakan poin pembanding.
Baca Juga: WordPress vs Blogspot, Manakah yang Lebih Baik?
Adapun poin pembanding yang akan kita gunakan dalam pembahasan Medium vs Substack ini adalah;
- Fitur dan Harga.
- Kompatibilitas dan Integrasi.
- Traffic.
- Kemampuan Monetisasi.
Penasaran bagaimana penjelasan lengkap mengenai poin-poin pembanding di atas?.
1. Fitur dan Harga
Substack memiliki fitur yang lumayan banyak. Di sini, penulis dapat mengakses fitur bisnis buletin berbayar, membangun komunitasnya tersendiri, dan juga fitur berlangganan. Substack hanya akan mengambil 10% untuk setiap transaksi dari hasil yang Anda dapatkan, jika fitur berlangganan diaktifkan.
Di Substack, Anda dapat memilih postingan artikel mana yang perlu diakses dengan membayarnya terlebih dahulu, dan juga mana postingan artikel yang dapat diakses secara gratis.

Sumber: Substack.com
Secara umum, di Substack, Anda bisa mendapatkan akses fitur seperti;
- Kelola postingan.
- Kelola subscribers.
- Statistik konten.
- Podcast.
- Chat dengan subscribers.
- Recommendations (konsepnya mirip dengan Reading List).
- Settings, meliputi pengaturan tampilan web, profil, domain dan lain sebagainya.
Bagaimana dengan Medium?. Medium memiliki fitur yang dapat memungkinkan penggunanya membuat artikel dengan editor yang sederhana serta intuitif. Editor yang diberikan oleh Medium, benar-benar rapi, dan membebaskan penulis dari berbagai gangguan.
Di Medium, Anda juga dapat melakukan pembatasan akses konten. Untuk mereka yang ingin mengakses konten Anda secara tak terbatas selama 1 bulan penuh, maka wajib membayar $5 USD, sedangkan untuk 1 tahun, biaya yang dikenakan sekitar $50 USD.

Sumber: Medium.com
Secara umum, di Medium, Anda bisa mendapatkan akses fitur seperti;
- Kelola profil.
- Kelola library.
- Kelola stories alias konten.
- Statistik konten.
- Pengaturan.
- Medium Member.
- Gift a membership.
Dari poin pembanding fitur dan harga, Medium vs Substack ini sebenarnya hampir berimbang. Tapi, dari sisi fungsionalitas fitur yang ditawarkan, MinTiv rasa Substack unggul.
Fitur-fitur yang ditawarkan oleh Substack, memberikan kita kesempatan untuk lebih dekat dengan pembaca atau subscribers, memungkinkan kita untuk membangun lebih banyak keterlibatan audiens di dalam konten.
2. Kompatibilitas dan Integrasi

Sumber: Medium.com
Poin pembanding berikutnya, dalam pembahasan Medium vs Substack, adalah Kompatibilitas dan Integrasi. Dari poin ini lagi-lagi Substack unggul jauh. Substack memungkinkan kita untuk dapat melakukan impor konten dari Mailchimp, WordPress, Tinyletter, Tumblr, RSS website, dan RSS podcast, Stripe dan masih banyak lagi.
Hebatnya, di Substack Anda bisa menambahkan integrasi data dan pelacakan, dengan menambahkan ID Facebook Pixel, X Pixel, Parse.ly Pixel, Google Analytics Pixel dan lain sebagainya. Berbeda dengan Substack, Medium hanya memungkinkan Anda untuk melakukan impor daftar pelanggan atau konten blog saja. Kemampuan integrasi dengan tools lain, terbilang terbatas.
3. Traffic
Setelah sebelumnya kalah dari 2 poin pembanding sebelumnya, untuk poin pembanding yang satu ini, Medium unggul. Medium vs Substack, skor sementara 1-2. MinTiv menggunakan SEMrush untuk mengecek jumlah traffic yang didapatkan Medium, dengan audiencenya berasal dari Indonesia, dan hasilnya;

Sumber: SEMrush.com
Sedangkan untuk Substack, seperti ini;

Sumber: SEMrush.com
Hasil ini terbilang wajar mengingat Medium sudah terlebih dahulu memulai perjalanannya. Medium pasti sudah memiliki komunitas besar di mana-mana, termasuk dari negara Indonesia.
Meskipun begitu, Anda tetap bisa mengandalkan Substack untuk bisa mendapatkan jangkauan audiens yang lebih luas dari pengunjung luar Indonesia, tetapi dengan persaingan konten yang lebih ringan, jika dibandingkan dengan Medium.
4. Kemampuan Monetisasi

Sumber: Medium.com
Jika Anda membaca baik-baik poin pembanding Medium vs Substack yang pertama, Anda pastinya sudah tahu bahwa pemenang di poin pembanding Kemampuan Monetisasi adalah Substack.
Di Substack, penulis bisa memperoleh penghasilan tetap dengan fitur berlangganan yang ada. Substack juga memiliki dashboard yang menerangkan tentang seberapa banyak yang Anda hasilkan dari jumlah pelanggan yang ada. Substack memudahkan penulis untuk mendapatkan alamat email dari mereka yang berlangganan.

Sumber: Substack.com
Medium tidak begitu. Tapi Medium menawarkan penulisnya untuk mendapatkan bayaran tinggi ketika konten yang mereka kreasikan, viral.
Dari 4 poin pembanding di atas, Anda pastinya berpikir bahwa Substack adalah pilihan terbaik untuk Anda bukan?. Jawabannya belum tentu. Jika Anda melihat dengan jeli jumlah perbedaan traffic Medium dan Substack yang didapatkan dari audiens Indonesia, maka tentu saja Substack bukan pilihan yang bijak untuk Anda melakukan strategi blogging untuk backlink.
Baca Juga: Cara Monetisasi Blog untuk Pemula, Ada Tips Terbaru!
Kecuali jika Anda sudah memiliki kemampuan penulisan konten bahasa Inggris yang baik. Itupun, MinTiv sarankan kepada Anda untuk lebih banyak menerapkan brand mention di Substack, ketimbang langsung menanamkan backlink begitu saja.
FAQ Seputar Konten
- Apa perbedaan utama antara Medium dan Substack? Medium berfokus pada pengalaman membaca yang bersih dan komunitas yang luas, sementara Substack lebih menonjol dalam monetisasi dengan fitur berlangganan dan buletin.
- Apakah Medium atau Substack lebih baik untuk SEO? Medium lebih baik untuk SEO karena memiliki domain authority tinggi, sedangkan Substack lebih cocok untuk membangun audiens setia.
- Manakah yang lebih baik untuk traffic? Medium memiliki traffic lebih besar, terutama di Indonesia, sedangkan Substack lebih cocok untuk menjangkau audiens global dengan persaingan lebih ringan.
- Jika saya ingin membangun komunitas, platform mana yang lebih cocok? Substack lebih cocok karena memiliki fitur interaksi seperti chat, rekomendasi, dan buletin berbayar yang mendekatkan penulis dengan audiens.
Kesimpulan
Medium vs Substack adalah dua platform blogging yang sering digunakan dalam strategi SEO, terutama untuk backlinking.
Medium unggul dalam traffic, khususnya di Indonesia, serta memiliki komunitas besar dengan pengalaman membaca yang bersih. Sementara itu, Substack lebih kuat dalam monetisasi dengan fitur berlangganan dan integrasi yang lebih luas untuk membangun komunitas.
Dari sisi fitur dan kompatibilitas, Substack lebih unggul, tetapi Medium tetap menjadi pilihan lebih baik jika tujuan utamanya adalah menjangkau audiens luas dan meningkatkan SEO. Pilihan terbaik tergantung pada kebutuhan pengguna, apakah fokus pada traffic dan SEO (Medium) atau monetisasi dan engagement audiens (Substack).
Artikel ini, dikreasikan oleh Tim Agency SEO Creativism. Agency SEO yang siap berikan pelayanan SEO terbaik dan lengkap sesuai dengan kebutuhan website klien. Hubungi mereka langsung melalui WhatsApp 6281 22222 7920, untuk dapat layanan Jasa SEO Website Terbaik, segera!!.



