
Medium vs Substack adalah perbandingan paling sering muncul ketika seseorang serius ingin membangun audience lewat tulisan di 2026. Pertanyaannya sederhana, jawabannya tidak. Medium menawarkan ekosistem pembaca jadi, distribusi via algoritma, dan komunitas writer global. Substack menawarkan kepemilikan email list, monetisasi langsung via paid subscription, dan kontrol penuh atas hubungan dengan pembaca. Pilihan yang benar tergantung pada apakah tujuan utama Anda adalah menulis untuk dibaca atau menulis untuk dibayar pembaca.
Skala kedua platform sudah berbeda kelas. Menurut data Backlinko (2025), Substack sudah memiliki lebih dari 5 juta paid subscription dan 35 juta total active subscription, dengan trafik bulanan menyentuh 47,6 juta unique visitor. Medium di sisi lain, mengacu data Gitnux (2026), mencatat lebih dari 100 juta pembaca aktif bulanan dan 2 juta active writer per bulan. Substack tumbuh lebih agresif di sisi monetisasi; Medium lebih besar di sisi audience reach. Itu fondasi awal yang penting Anda pegang sebelum memutuskan.
Artikel ini membongkar perbedaan keduanya dari 14 sisi, mulai dari sejarah, editor, model monetisasi, fee struktur 2026, SEO, distribusi, mobile app, sampai siapa yang sebaiknya pakai apa. Tidak ada pemenang mutlak. Yang ada pemenang untuk konteks Anda.

Tampilan artikel paywalled di Medium dengan label member-only.
Daftar Isi
ToggleMedium Adalah: Definisi dan Filosofi Platform
Medium adalah platform publikasi online yang didirikan tahun 2012 oleh Evan Williams, mantan CEO Twitter, bersama Biz Stone dan Jason Goldman. Filosofinya unik untuk era itu, mengutamakan kualitas baca daripada kuantitas klik. Dari awal Medium menolak iklan banner, fokus ke desain reading experience yang clean, dan menempatkan tulisan panjang sebagai unit konten utama.
Di tahun 2026, Medium beroperasi sebagai distributed publication platform. Artinya, setiap writer dapat menulis di profil pribadi atau bergabung ke publication, semacam majalah online yang mengkurasi tulisan dari banyak kontributor. Algoritma Medium kemudian mendistribusikan tulisan ke pembaca berdasarkan topik yang mereka follow, history baca, dan engagement signal.
Kekuatan utama Medium adalah distribusi built-in. Tulisan Anda bisa muncul di feed jutaan pembaca tanpa Anda perlu marketing aktif, asalkan kualitasnya bagus dan dipilih masuk program Boost. Pengalaman kami menangani strategi off-page SEO untuk klien menunjukkan, Medium tetap salah satu platform tier-1 untuk brand mention dan strategi linkbuilding yang relevan dengan niche profesional, terutama tech, marketing, dan business.
Yang sering terlewat: Medium punya dua wajah. Sisi gratis (open web) dan sisi berbayar (paywall member-only). Tulisan Anda bisa di salah satunya. Pilihannya menentukan apakah artikel itu untuk reach maksimum atau revenue maksimum, dan keduanya jarang bisa dapat sekaligus.
Substack Adalah: Newsletter Pertama, Blog Kedua
Substack adalah platform newsletter berbayar yang didirikan tahun 2017 oleh Chris Best (co-founder Kik Messenger), Jairaj Sethi, dan Hamish McKenzie. Berbeda dari Medium yang lahir sebagai blog platform, Substack lahir sebagai email newsletter tool dengan paid subscription terintegrasi. Itu DNA-nya, dan itu yang membedakan setiap fitur.

Setiap publikasi Substack punya landing page dan URL custom, mirip mini-website.
Setiap newsletter Substack adalah mini-website plus email list. Penulis bisa mempublikasikan artikel yang otomatis dikirim ke inbox subscriber dan juga muncul sebagai post di sub-domain mereka (misalnya, namaanda.substack.com). Pembaca bisa subscribe gratis atau berbayar. Penulis dapat mengatur tier harga sendiri, biasanya $5 sampai $20 per bulan, dengan opsi tahunan diskon dan tier “Founding Member” premium.
Filosofi inti Substack berbeda fundamental dari Medium: writer adalah pemilik audience-nya. Email list Anda bisa diekspor kapan saja dan dipindahkan ke platform lain. Tidak ada algoritma yang menentukan siapa yang dapat dilihat. Tidak ada paywall pool bersama yang menentukan bayaran Anda. Ini hubungan langsung penulis ke pembaca.
Substack kini sudah lebih dari sekadar newsletter. Mereka menambahkan Notes (mirip Twitter feed), podcast hosting, video upload, dan Chat (group discussion). Tetapi inti bisnis tetap sama: paid email subscription. Selama Anda nyaman membangun list dari nol, Substack adalah salah satu paling efisien di 2026 untuk monetisasi tulisan secara langsung.
Perbedaan Utama Medium vs Substack dalam Satu Tabel
Sebelum masuk ke detail per fitur, ini ringkasan perbandingan 15+ kriteria penting yang biasanya menentukan keputusan penulis dan brand:
| Kriteria | Medium | Substack |
|---|---|---|
| Tahun Berdiri | 2012 | 2017 |
| Fokus Inti | Blog distribution | Email newsletter + paid sub |
| Pembaca per Bulan | 100+ juta | 45+ juta visitor |
| Paid Subscription | Pool bersama via membership $5 | Individual per newsletter |
| Fee Platform | Tidak ada (writer dapat share dari pool) | 10% dari paid subscription |
| Stripe Fee | 2.9% + $0.30 (untuk MPP payout) | 2.9% + $0.30 + 0.7% recurring |
| Kepemilikan Email List | Tidak | Ya (bisa diekspor) |
| Custom Domain | Ya (member only) | Ya ($50 one-time) |
| SEO Authority | Domain authority tinggi (DR 95) | Domain authority sedang-tinggi |
| Distribusi | Algoritma + topic feed | Notes + Recommendations + Email |
| Editor | Minimalis, prose-focused | Block-style + newsletter preview |
| Podcast & Video | Audio version artikel | Native podcast + video hosting |
| Mobile App | iOS + Android (reader-first) | iOS + Android (reader + Notes) |
| Tier Harga Pembaca | $5/bln, $50/thn, Friend $15/bln | Custom per newsletter |
| Bayaran Penulis | Berdasarkan member read time | Langsung dari subscription |
Key Takeaway
Medium adalah pilihan untuk reach dan brand exposure. Substack adalah pilihan untuk monetisasi langsung dan kepemilikan audience. Skala bisnis dan goal jangka panjang menentukan mana yang lebih masuk akal.
Editor dan Customization: Minimalis vs Block-Based
Editor adalah hal pertama yang Anda sentuh setiap kali nulis. Pengalaman dua platform ini sangat berbeda meskipun keduanya simple di permukaan.
Editor Medium
Medium mempertahankan filosofi original-nya: editor minimalis berbasis prose. Anda mengetik, format teks dengan toolbar yang muncul saat Anda highlight, dan menempelkan gambar atau embed dengan paste link langsung. Tidak ada panel sidebar kompleks, tidak ada blok yang harus di-drag. Hasilnya adalah pengalaman menulis yang fokus, sangat cocok untuk article panjang.

Dashboard penulis Medium memperlihatkan statistik views, reads, dan earnings.
Customization tampilan di Medium hampir nol. Semua artikel mengikuti template yang sama, font Charter (untuk teks panjang) atau Sohne (untuk header), dengan warna brand Medium dominan. Yang membuat artikel Anda berbeda adalah cover image, judul, dan kualitas tulisan, bukan styling. Bagi sebagian penulis, ini bagus karena memaksa fokus ke konten. Bagi yang lain, ini frustasi karena tidak bisa membedakan brand.
Editor Substack
Substack menggunakan editor block-style modern yang familiar bagi pengguna Notion atau WordPress Gutenberg. Anda bisa menambahkan blok teks, heading, gambar, embed, button, paywall divider, dan pranala bayar. Lebih penting lagi, Substack memberikan preview email langsung, jadi Anda tahu persis bagaimana artikel akan terlihat di inbox subscriber sebelum klik publish.
Customization di Substack jauh lebih fleksibel. Anda bisa atur warna brand, font header, logo publikasi, custom domain (dengan fee $50 sekali bayar untuk hilangkan substack.com dari URL), dan layout landing page. Bukan se-fleksibel WordPress, tapi cukup untuk membangun identitas visual yang konsisten dengan brand Anda.
Pro Tip dari pengalaman tim
Kami sering menyarankan klien yang baru memulai untuk menulis draft di tool eksternal (Notion atau Google Docs) lalu paste ke Medium/Substack. Editor kedua platform OK untuk publish, tidak ideal untuk workflow long-form yang butuh banyak revisi.
Model Monetisasi: Pool Membership vs Direct Subscription
Ini adalah perbedaan paling fundamental dan paling sering bikin salah paham. Model bayaran kedua platform secara matematis sangat berbeda, dan dampaknya ke take-home revenue Anda bisa selisih ribuan dolar per tahun.

Halaman resmi Medium Partner Program menjelaskan model bayaran via member read time.
Medium Partner Program: Pool dan Read Time
Medium menggunakan pool model. Setiap bulan, Medium mengumpulkan total membership fee dari semua paid member (saat ini $5/bulan atau $50/tahun untuk member regular, plus tier $15/bulan atau $150/tahun untuk Friend of Medium). Dari pool itu, Medium membayar operasional, lalu mendistribusikan sisanya ke writer berdasarkan member read time dan engagement.
Aturan dasar yang penting Anda ketahui:
- Artikel harus di-place di balik paywall (member-only) untuk eligible MPP.
- Anda dapat bayaran ketika paying member baca tulisan Anda selama 30 detik atau lebih. Non-member view tidak dihitung.
- Friend of Medium tier ($15/bulan) menghasilkan 4x earning untuk writer dibanding member regular saat baca cerita Anda.
- Klaps, highlight, reply, dan follow juga berkontribusi ke earning, meskipun dengan bobot lebih kecil dari read time.
- Boost program (Medium pilih artikel untuk distribusi lebih luas) bisa menambah earning signifikan, tapi tidak ada cara request Boost manual.
- Payout via Stripe bulanan, threshold minimum $10.
Rata-rata writer Medium melaporkan earning $2.50 sampai $9 per 1.000 views, tergantung niche, engagement, dan apakah artikel dapat Boost. Beberapa top writer mencapai $5.000 per bulan, tapi mayoritas dapat di bawah $100. Earning ini tidak deterministik, ada fluktuasi bulanan tergantung total aktivitas member di platform.
Substack: 10% Cut Langsung dari Subscriber Anda

Settings paid subscription di Substack untuk atur harga monthly, annual, dan founding tier.
Substack pakai direct subscription model yang sangat sederhana di permukaan tapi punya layered fee yang sering bikin shock writer baru. Berdasarkan analisis Beehiiv (Desember 2025) dan review Sender (Januari 2026), breakdown fee untuk subscription $5/bulan terlihat seperti ini:
| Komponen Fee | Jumlah | Catatan |
|---|---|---|
| Anda charge subscriber | $5.00 | Harga per bulan |
| Substack platform fee (10%) | -$0.50 | Tetap, untuk semua paid plan |
| Stripe processing (2.9%) | -$0.15 | Per transaksi sukses |
| Stripe transaction fee | -$0.30 | Fixed per transaksi |
| Stripe recurring billing fee (0.7%) | -$0.04 | Mulai Juli 2024 |
| Anda terima (take-home) | $4.01 | Sekitar 80% dari list price |
Untuk subscription $10/bulan, total fee ronde 14-16% dari gross revenue (writer keep $8.41). Untuk subscription via iOS app, Apple ambil tambahan 30% di tahun pertama dan 15% mulai tahun kedua. Substack secara default menaikkan harga IAP otomatis sehingga writer terima jumlah net yang sama, tapi konsekuensinya subscriber bayar 30-45% lebih mahal di iOS.
Benchmark: Break-Even Substack vs Flat-Fee Platform
Saat Anda menyentuh ~$1.500/bulan paid subscription revenue, platform flat-fee seperti Ghost ($9-$199/bulan) atau Beehiiv ($39+/bulan) mulai cost-effective. Di $5.000/bulan, Anda bayar 7x lebih banyak fee di Substack dibanding alternatif flat-fee. Substack ideal untuk fase awal sampai sekitar $1.500/bulan.
Tapi jujur, Substack juga punya keunggulan tak tertulis: tidak ada upfront cost. Writer pemula yang belum tahu apakah newsletter mereka akan dapat 10 atau 10.000 subscriber, bisa publish berbulan-bulan tanpa keluar uang. Itu reduce friction yang sangat besar.
Audience dan Distribusi: Algoritma vs Direct Inbox
Cara kedua platform menyalurkan tulisan Anda ke pembaca adalah perbedaan paling besar di luar monetisasi. Ini menentukan strategi pertumbuhan Anda.
Medium punya built-in audience network. Tulisan baru otomatis muncul di feed pembaca yang follow topik atau publication terkait. Algoritma Medium mempelajari behavior pembaca dan distribusikan konten yang relevan. Tag, judul, dan engagement awal sangat menentukan reach. Bagi penulis tanpa audience awal, ini berkah, satu artikel viral bisa dapat ribuan reads tanpa promosi.

Substack Notes berfungsi mirip Twitter feed untuk drive engagement antar publikasi.
Substack lain ceritanya. Setiap newsletter mulai dari nol absolute. Tidak ada feed algorithmic yang akan mendorong Anda ke pembaca baru otomatis. Pertumbuhan Substack di awal tergantung pada:
- Cross-promotion (Recommendations). Newsletter lain dapat merekomendasikan Anda saat subscriber baru sign up. Ini engine pertumbuhan utama di Substack.
- Substack Notes. Mirip Twitter feed, untuk share insight pendek dan drive klik ke newsletter Anda.
- Email forward dan share. Subscriber forward email ke teman.
- External traffic. SEO, social media, podcast appearance, semua dari luar Substack.
Yang sering tidak dibahas: setelah Anda punya beberapa ratus subscriber yang engaged, Substack jauh lebih powerful dari Medium untuk retention. Email langsung masuk inbox, tidak terganggu algoritma. Open rate newsletter Substack rata-rata 30-40%, jauh lebih tinggi dari engagement rate Medium yang tergantung apakah algoritma kasih show.
Pro Tip Strategi Pertumbuhan
Tim kami sering rekomendasikan strategi hybrid: tulis di Medium untuk reach (dapat eyeball dari algoritma), convert ke Substack untuk depth (push CTA ke newsletter Anda untuk konten ekslusif). Medium jadi top-of-funnel, Substack jadi conversion layer.
SEO dan Distribusi Organik: Siapa Lebih Search-Friendly?
Pertanyaan SEO penting bagi siapa pun yang serius soal long-term organic traffic. Jawabannya tidak hitam-putih, dan ini area yang sering disalahpahami.

Trafik organik Medium di Indonesia berdasarkan analisis Semrush.
Medium: Domain Authority Tinggi, Diversity Konten Sangat Padat
Medium adalah salah satu domain otoritas tertinggi di internet. Domain Rating-nya konsisten di sekitar 95 (skala 100), dan halaman individual Medium sering rank di top 10 untuk keyword spesifik tanpa SEO optimasi khusus. Artikel di Medium juga sering muncul di Google Discover, terutama untuk topik trending.
Tapi ada catatan penting: Medium adalah lautan padat. Dengan lebih dari 2 juta active writer per bulan dan 140.000+ stories baru per minggu, persaingan untuk dapat rank di Medium domain sangat ketat. Artikel Anda bisa hilang dalam beberapa hari jika tidak dapat engagement awal.
Kelemahan SEO Medium lain: Anda tidak punya kontrol penuh. Tidak bisa edit meta description, tidak bisa atur canonical URL custom (kecuali pakai fitur Import dengan canonical ke website utama), tidak bisa optimasi internal linking secara strategis. Untuk niche kompetitif, ini batasan signifikan.
Substack: Lebih Muda, Tapi Profile Authority Membangun Cepat

Trafik organik Substack di Indonesia, masih lebih kecil dibanding Medium di pasar Indonesia.
Substack relatif lebih muda di SEO (platform baru ramai sejak 2020), tapi pertumbuhan domain authority-nya sangat cepat. Newsletter individual yang aktif publish konten panjang dengan keyword relevan sering rank kompetitif di Google, terutama untuk niche analisis dan opini.
Keunggulan SEO Substack:
- Setiap post punya URL semantik dan dapat diindex.
- Bisa edit slug, meta description, dan canonical.
- Custom domain ($50 one-time) memindahkan SEO authority ke domain Anda sendiri, jadi kalau migrasi ke platform lain di masa depan, equity tetap.
- RSS feed built-in untuk syndication.
Kelemahan Substack di SEO: distribusi awal lebih lambat. Tanpa social signal, tanpa backlink dari domain otoritas, post Substack baru bisa butuh berbulan-bulan untuk rank di topic kompetitif. Bandingkan dengan Medium yang bisa rank dalam beberapa hari karena domain authority parent.
Untuk strategi backlink dan brand mention sebagai bagian dari kampanye SEO platform Medium atau off-page, Medium tetap lebih efektif untuk niche umum di pasar Indonesia. Substack jadi pilihan saat target audience lebih ke pembaca global, niche profesional, atau topik yang butuh thought leadership panjang. Bagi yang sedang riset tools untuk monitoring posisi konten di SERP, kami sudah review beberapa pilihan di artikel cek ranking website Indonesia.
Mobile App dan Reading Experience
Tidak banyak yang bahas ini, tapi mobile experience adalah pembeda nyata di 2026.
Medium App adalah salah satu reading app paling matang di App Store dan Play Store. Fitur unggulan termasuk offline mode, audio narrated version untuk member, dan synced reading position antar device. UI-nya distraction-free, fokus ke pengalaman baca panjang. Stats per artikel juga lengkap di aplikasi.
Substack App lebih muda tapi berkembang pesat. Kini menjadi hub buat semua newsletter yang subscriber Anda follow, lengkap dengan inbox terpisah dari email, Notes feed mirip Twitter, dan native podcast player. Dari sisi writer, Substack mobile editor memungkinkan post Notes cepat dari HP. Kekurangan utama: writing experience di mobile untuk article panjang masih kurang dibanding desktop.
Key Takeaway Mobile
Subscription via iOS app Substack lebih mahal sekitar 30% karena Apple ambil cut. Jika subscriber Anda banyak di iPhone, sebaiknya direct mereka ke web checkout (untuk subscriber US sekarang sudah diizinkan link external).
Analytics, Paywall, dan Payment Processing
Soal data, dua platform punya filosofi yang berbeda lagi.
Medium memberikan aggregate stats: total views, total reads, read ratio per artikel, earning per bulan, daftar followers baru. Stats agak terbatas, dan tidak ada info detail siapa pembaca Anda (selain follower list). Member-only stories dapat data tambahan: reading time spent by members, claps per artikel, highlight per story.
Substack memberikan data ownership. Email list lengkap dengan informasi sign-up date, open rate per email, click rate per link, dan revenue per subscriber tier. Anda bisa export semuanya ke CSV kapan saja. Bagi yang punya bisnis di atas tulisan (course creator, consultant, info-product seller), data ini sangat berharga.
Paywall di Medium hanya satu jenis: member-only story di-unlock dengan membership tier $5. Tidak ada tier custom, tidak ada one-time payment, tidak ada course bundling. Substack lebih fleksibel: monthly, annual, lifetime (founding member), dengan harga custom. Tapi Substack juga terbatas, tidak bisa jual one-time digital product.
Payment processing keduanya pakai Stripe, jadi proteksi pembayaran, refund handling, dan tax forms (1099) standardized. Substack support payout di 40+ negara via Stripe. Medium support payout di sekitar 30 negara, tergantung apakah Stripe operate di sana.
Pricing Model 2026: Free, Premium, dan Hidden Cost
Mari lihat angka pasti yang sering tidak transparan di publikasi marketing kedua platform.
| Aspek | Medium 2026 | Substack 2026 |
|---|---|---|
| Free Tier (Writer) | Ya, publish semua artikel | Ya, unlimited subscriber & post |
| Monthly Platform Fee | Tidak ada | Tidak ada (free) |
| Reader Tier Regular | $5/bulan atau $50/tahun | Custom (rata $5-$20/bulan) |
| Reader Tier Premium | Friend of Medium $15/bulan, $150/tahun | Founding Member ($150+ custom) |
| Writer Revenue Share | Bagian dari pool (variable) | ~80-87% (web), ~70% (iOS) |
| Custom Domain | Free untuk member, via DNS | $50 one-time |
| Min Payout Threshold | $10 via Stripe | Tidak ada (Stripe minimum) |
Yang penting Anda perhatikan: Substack di-frame sebagai independent journalism platform yang “fair to creators”, tapi ekonomi-nya sebenarnya tidak terlalu berbeda dari platform manapun yang ambil cut dari kreator. 10% platform fee plus Stripe 3.6% efektif = 13-16% total fee. Beehiiv flat $39+/bulan untuk paid plan jadi lebih murah di skala $1.500/bulan+, dan Ghost flat $9-$199/bulan jadi competitive di sekitar $900/bulan+ revenue. Substack menang di kemudahan onboarding awal, bukan di unit economics di scale.
Siapa yang Sebaiknya Pakai Medium
Bukan setiap penulis cocok di Medium, dan bukan setiap brand cocok di Substack. Ini profil ideal masing-masing.
Medium cocok kalau Anda:
- Writer dengan niche luas (tech, marketing, business, personal development). Niche-niche ini punya audience besar di Medium.
- Belum punya audience sama sekali dan butuh exposure cepat lewat algoritma.
- Mencari brand mention dan backlink untuk strategi off-page SEO. Medium DR 95 sangat valuable untuk profile mention dari niche profesional.
- Penulis casual yang ingin earning tambahan, bukan full-time income. Member read time model lebih cocok untuk publishing kasual yang konsisten.
- Korporat yang ingin thought leadership ringan tanpa mau manage email list sendiri.
Yang sering kami temui di lapangan: brand B2B Indonesia yang bagus pertumbuhannya di Medium adalah yang publish artikel insight industry secara konsisten 2-4 kali per bulan dengan judul yang search-driven. Mereka tidak fokus monetize lewat MPP, melainkan converting reader ke client lewat About Author section dan CTA halus di akhir artikel. Pendekatan ini mirip dengan filosofi cornerstone content di blog utama, di mana satu artikel hub menarik audience dan distribute ke layanan inti.
Siapa yang Sebaiknya Pakai Substack
Substack cocok kalau Anda:
- Sudah punya audience awal (Twitter following, podcast listener, klien existing) yang bisa Anda invite ke newsletter.
- Konten Anda berbentuk newsletter natural, analisa harian, weekly digest, opinion piece, behind-the-scene story.
- Ingin monetisasi langsung dengan revenue predictable, bukan share pool yang fluktuatif.
- Memprioritaskan kepemilikan audience daripada reach maksimal. Email list adalah aset yang tidak bisa diambil platform.
- Niche profesional dengan willingness to pay tinggi (finance, business analysis, tech, fashion industry, food critique). Audience seperti ini cenderung bayar untuk insight berkualitas.
- Penulis dengan workflow konsisten 1-2x per minggu. Cadence newsletter kuat lebih penting daripada volume.
Berdasarkan workflow internal kami untuk klien SEO yang juga handle content marketing, formula Substack yang sukses biasanya: 50 free subscriber pertama dari relasi langsung, 500 dari cross-promotion, 5.000 dari organic discovery dan SEO. Tanpa fase pertama itu, paid subscriber sulit terbentuk.
Alternatif Lain: Ghost, Beehiiv, Buttondown
Medium dan Substack bukan satu-satunya pilihan. Tiga alternatif yang sering jadi pertimbangan saat skala mulai naik:
Ghost adalah platform self-hosted (atau hosted via Ghost(Pro)) yang lebih mirip CMS lengkap. Pricing $9-$199/bulan flat fee tanpa revenue share. Cocok saat newsletter Anda sudah menghasilkan $1.000+/bulan dan ingin lebih banyak kontrol design plus payment. Ghost open-source, jadi technical skill required, atau pakai hosted plan.
Beehiiv adalah challenger Substack langsung. Dibangun oleh mantan tim Morning Brew. Pricing flat $39-$99+/bulan untuk paid plan, fitur lebih lengkap untuk newsletter operator serius (referral program native, ad network, A/B testing canggih). Saat Anda menyentuh 5.000+ subscriber dan ingin scale aggressively, Beehiiv sering lebih efisien daripada Substack di unit economics.
Buttondown adalah pilihan minimalis untuk technical writer dan solo creator. Pricing transparan flat per subscriber count, support markdown native, dan API-first. Cocok untuk niche developer dan technical content yang prefer plain text email. Yang menggunakan platform tradisional seperti Blogger gratis juga masih bisa scale dengan strategi konten yang tepat, seperti dibahas di panduan cara membuat blogger.
Kalau Anda mau eksplorasi alternatif Indonesia, masih banyak pilihan platform blog seperti dijelaskan di artikel panduan lengkap apa itu blog dan perbandingan WordPress vs Blogspot. Untuk yang penasaran beda blog dan vlog secara format, monetisasi, dan strategi, kami juga sudah bahas tuntas di artikel perbedaan blog dan vlog.
Strategi Hybrid: Pakai Keduanya Sekaligus
Sering kali jawaban terbaik bukan memilih, tapi mengkombinasikan keduanya. Ini formula yang banyak top creator dan brand Indonesia pakai di 2026.
Use case 1: Medium sebagai top-of-funnel, Substack sebagai bottom-of-funnel. Publish artikel insight industry di Medium untuk dapat eyeball dari algoritma dan organic search. Di akhir setiap artikel, embed link ke Substack newsletter Anda untuk “in-depth analysis weekly”. Medium jadi corong; Substack jadi tempat audience yang serius berkumpul.
Use case 2: Cross-publish dengan canonical URL. Tulis di Substack sebagai master content, lalu cross-post di Medium dengan canonical URL menunjuk ke Substack. Anda dapat reach Medium tapi SEO equity tetap di Substack. Caveat: Medium kadang demote canonical content di algoritma, jadi ini trade-off.
Use case 3: Newsletter di Substack, brand mention di Medium. Untuk brand atau klien yang fokus utama-nya adalah audience building via email, Substack jadi platform inti. Medium jadi distribution channel untuk mention brand di artikel guest post atau personal account. Brand mention dengan link masuk ke profile menambah otoritas tanpa terlihat seperti spam backlink. Sebelum implementasi, pastikan Anda paham fundamental anchor text dan kategorinya, karena anchor yang tepat menentukan dampak SEO dari link mention.
Strategi Untuk Brand Indonesia
Untuk brand yang target pasarnya Indonesia, Medium kasih reach lebih besar di organic search lokal. Mulai dengan Medium 2-3 kali per bulan untuk thought leadership artikel, baru build Substack secara paralel saat ada audience nyata yang siap subscribe. Hindari urutan terbalik kecuali Anda sudah punya following social yang signifikan.
Migrasi Antar Platform: Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Dipindah
Pertanyaan ini penting karena migrasi platform jadi salah satu masalah paling mahal jika tidak direncanakan dari awal.
Dari Medium ke Substack: Anda bisa import artikel via fitur Substack Import (support Medium, WordPress, Mailchimp, Tumblr, RSS). Tapi followers Anda di Medium tidak bisa ditransfer. Mereka punya hubungan dengan Anda lewat platform Medium, bukan hubungan email langsung. Migrasi praktis berarti rebuild audience dari nol di Substack, dengan asset berupa konten lama yang sudah dipindah.

Fitur impor konten di Medium, terbatas hanya untuk artikel dan beberapa list email.
Dari Substack ke Medium: Lebih sulit karena Medium tidak punya fitur import komprehensif. Anda harus manual copy-paste artikel ke Medium, dan paid subscriber list tidak bisa ditransfer (Medium tidak punya konsep individual paid subscriber per writer). Praktis ini one-way migration yang merugikan, jangan dilakukan kecuali Anda berhenti monetize sepenuhnya.
Dari Substack ke Ghost atau Beehiiv: Lebih mulus. Email list bisa diekspor dan diimpor; konten dalam format Markdown atau HTML; paid subscriber bisa ditransfer ke Stripe account baru. Ini alasan mengapa Substack populer untuk fase early-stage, mudah keluar tanpa kehilangan asset.
Yang sering tidak dibahas: SEO equity tidak ikut migrasi. URL berubah, backlink lama menunjuk ke domain lama, internal linking putus. Pakai 301 redirect dari domain lama ke baru wajib, tapi tetap kehilangan 10-30% organic traffic selama 3-6 bulan transition. Custom domain (di Substack atau Ghost) sangat membantu jika antisipasi migrasi sejak awal.
Case Study Sukses di Kedua Platform
Beberapa case study publik yang sering jadi referensi industry:
Medium Top Performers meliputi penulis seperti Tim Denning (lifestyle, ~$30.000/bulan dari MPP di puncak), Zulie Rane (writing tips), dan publikasi seperti Better Programming, The Startup, dan UX Collective yang menjadi hub puluhan ribu pembaca per artikel. Pattern-nya: konsistensi publish (3-5 per minggu), niche yang punya member base aktif, plus partisipasi di Boost program.
Substack Top Performers seperti Heather Cox Richardson (political analysis, dilaporkan $5+ juta/tahun), Casey Newton (Platformer tech analysis), Bari Weiss (The Free Press), dan Lenny Rachitsky (product management) menunjukkan model Substack ideal untuk: penulis dengan track record media existing, niche dengan willingness-to-pay tinggi, dan cadence publish konsisten. Data Backlinko (2025) menyebut lebih dari 50 publisher di Substack menghasilkan $1 juta+ per tahun.
Yang menarik: tidak banyak case study Indonesia yang publik tentang earning Substack. Sebagian besar penulis Indonesia yang serius monetize lewat email cenderung pakai platform sendiri (WordPress + Mailchimp atau ConvertKit) untuk hindari fee Substack dan dapat kontrol penuh. Trend ini bisa berubah saat platform Substack mulai aktif rekrut writer Indonesia di tahun-tahun mendatang. Untuk yang sedang riset agency yang bantu build content engine di lokal pasar, kami sudah breakdown kriteria pilih di artikel agency SEO terbaik di Jogja.
Pertimbangan 2026: Dampak AI dan Perubahan Algoritma
Konteks 2026 berbeda dari 2023 saat artikel ini pertama dipublikasi. Beberapa shift yang penting Anda perhatikan sebelum memutuskan platform:
AI Overviews dan Search-Less Future. Google AI Overviews mulai menggerus organic clicks ke artikel blog generik. Konten yang masih dapat traffic adalah yang punya: opini unik, data primer, atau perspektif yang AI tidak bisa replikasi. Medium yang berbasis algoritma topical lebih rentan; Substack yang masuk langsung ke inbox subscriber relatively immune. Kami sudah bahas detail strategi konten yang masih dapat klik di era AI Overview di artikel Discovery Google dan teknik bertahan di pencarian modern.
Substack Notes vs Twitter/X. Sejak rebrand Twitter ke X dan migrasi banyak writer ke Substack Notes, ekosistem Substack jadi lebih hidup. Notes bisa drive significant traffic ke newsletter Anda, mirip seperti Twitter dulu. Medium juga mencoba Notes-like feature tapi adoption masih rendah.
iOS App Store Wars. Sejak Substack wajib enable in-app purchase Apple di iOS app tahun 2025, harga subscription Substack via iOS rata-rata 30-45% lebih mahal dari web. TechCrunch melaporkan bahwa untuk US, Substack sudah diizinkan tampilkan link web checkout di iOS app sebagai work-around. Untuk international subscriber, IAP masih satu-satunya jalan.
Konsolidasi Newsletter Industry. Beehiiv, Ghost, dan Buttondown semakin matang dan menarik writer mid-tier dari Substack. Trend ini akan memaksa Substack innovate (atau menurunkan fee). Bagi Anda, ini berita baik, ekosistem yang berkembang artinya lebih banyak pilihan dan fee structure yang lebih kompetitif.
Kontroversi Substack: Content Moderation dan Implikasi
Topik yang jarang dibahas tapi penting: Substack pernah dikritik publik soal content moderation policy. The Verge melaporkan tahun 2024 bahwa Substack menolak menghapus newsletter dengan konten ekstremis, dengan argumen “kebebasan berekspresi”. Beberapa writer high-profile (Casey Newton, Big Technology, Lenny’s Newsletter) sempat berdebat publik soal kebijakan ini.
Dampaknya bagi Anda sebagai writer atau brand: asosiasi dengan platform matter. Brand Indonesia yang concern terhadap reputational risk biasanya double-check platform values sebelum komit jangka panjang. Medium yang lebih ketat moderasi konten dianggap lebih aman untuk brand-safe content.
Substack memperbarui policy tahun 2024 untuk lebih ketat, tapi history-nya membekas. Untuk niche sensitif (anak-anak, kesehatan, financial advice ke retail investor), pertimbangkan implikasinya sebelum lock-in.
Kesimpulan: Medium vs Substack, Mana yang Tepat untuk Anda?
Setelah membongkar 14 aspek, jawaban yang jujur adalah: tergantung tujuan inti Anda. Medium dan Substack bukan substitusi langsung, mereka melayani problem yang berbeda.
Pilih Medium jika prioritas Anda adalah reach maksimal, brand exposure, dan distribusi organik tanpa kerja keras membangun list sendiri. Medium ideal untuk casual writer, brand B2B yang fokus thought leadership, dan strategi off-page SEO untuk niche profesional.
Pilih Substack jika prioritas Anda adalah kepemilikan audience, monetisasi langsung, dan hubungan dekat dengan subscriber. Substack ideal untuk full-time creator, analyst dengan niche premium, dan brand yang siap invest jangka panjang di newsletter sebagai channel utama.
Atau pilih strategi hybrid: Medium untuk top-of-funnel dan distribusi awal, Substack untuk depth audience dan revenue. Banyak top creator di 2026 memang menjalankan dua-duanya sekaligus karena value proposition-nya saling melengkapi, bukan saling cannibalize.
Yang tidak bijak: terlalu lama overthinking pilihan platform sampai tidak mulai menulis sama sekali. Konten yang konsisten di platform mana pun lebih valuable daripada strategi rumit yang tidak ter-execute. Mulai dari salah satu, ukur hasilnya 3-6 bulan, baru optimize atau pivot.
FAQ Seputar Medium vs Substack
Apa perbedaan utama Medium dan Substack?
Medium adalah blog platform dengan algoritma distribusi dan pool monetisasi membership. Substack adalah newsletter platform dengan kepemilikan email list dan paid subscription langsung. Medium prioritaskan reach via algoritma, Substack prioritaskan ownership dan revenue langsung dari subscriber.
Apakah Medium atau Substack lebih baik untuk SEO?
Medium punya domain authority tinggi (DR 95) yang mempercepat ranking untuk konten baru. Substack lebih muda tapi authority-nya tumbuh cepat, plus custom domain untuk migrasi nanti. Untuk brand mention dan link building cepat, Medium lebih powerful. Untuk SEO long-term di domain sendiri, Substack dengan custom domain lebih portable.
Berapa persen pendapatan writer di Substack?
Substack ambil 10% platform fee plus Stripe ~3.6% (2.9% + $0.30 + 0.7% recurring). Total fee 13-16%, jadi writer terima sekitar 84-87% dari gross subscription. Untuk subscription via iOS, Apple ambil tambahan 30% di tahun pertama, jadi take-home turun ke ~70% atau subscriber bayar 30% lebih mahal.
Berapa rata-rata earning Medium per 1.000 views?
Rata-rata writer Medium melaporkan $2.50-$9 per 1.000 views, tergantung niche, engagement, dan apakah artikel dapat Boost. Top performer bisa $20+ per 1.000 views. Friend of Medium subscriber ($15/bulan) menghasilkan 4x earning dibanding member regular saat baca konten Anda.
Bisakah saya pindahkan subscriber dari Substack ke platform lain?
Ya, email list Substack bisa diekspor kapan saja dalam format CSV. Paid subscriber bisa ditransfer ke Stripe account baru jika migrasi ke Ghost, Beehiiv, atau platform Stripe-based lain. Ini salah satu keunggulan utama Substack dibanding Medium yang followers-nya terikat platform.
Apakah Substack cocok untuk pemula yang baru mulai menulis?
Bisa cocok jika Anda sudah punya basis audience awal (Twitter, podcast, network profesional). Tanpa audience awal, Substack pertumbuhan organic-nya lambat karena tidak ada algoritma distribusi. Untuk pemula tanpa following, Medium lebih ramah karena dapat eyeball dari algoritma. Rekomendasi: mulai Medium untuk build initial audience, pindah/paralel ke Substack saat sudah ada 100-500 follower aktif.
Bagaimana Medium menentukan bayaran writer di Partner Program?
Medium menghitung berdasarkan: (1) member read time (minimum 30 detik untuk dihitung), (2) engagement seperti klaps, highlight, reply, follower, (3) bonus Friend of Medium (4x earning), dan (4) bonus Boost. Setiap hari Medium punya budget yang didistribusikan proporsional ke writer berdasarkan aktivitas member yang baca konten mereka. Earning bisa fluktuatif tiap bulan.
Apa alternatif terbaik selain Medium dan Substack di 2026?
Ghost ($9-$199/bulan flat fee) untuk yang ingin kontrol penuh dan revenue scale ke ribuan dolar per bulan. Beehiiv ($0-$99+/bulan) untuk newsletter operator serius dengan referral program native dan ad network. Buttondown untuk technical writer minimalis dengan API-first. WordPress + ConvertKit/Mailchimp untuk yang sudah punya website sendiri dan ingin email list terintegrasi.
Artikel ini dikreasikan oleh Tim Agency SEO Creativism. Sebagai agency SEO yang menangani strategi off-page untuk klien di niche profesional dan konsumer, kami sering merekomendasikan kombinasi platform sesuai goal: Medium untuk brand mention dan distribusi cepat, Substack untuk audience ownership jangka panjang. Untuk konsultasi strategi konten dan Jasa SEO Website yang sesuai dengan bisnis Anda, hubungi tim kami via WhatsApp 0812 2222 7920.



