Perbedaan dofollow dan nofollow terletak pada satu hal mendasar: apakah sebuah tautan (link) meneruskan otoritas atau tidak ke website tujuan. Link dofollow meneruskan otoritas (sering disebut link juice) sehingga membantu peringkat SEO, sementara link nofollow memberi sinyal ke mesin pencari untuk tidak meneruskan otoritas tersebut. Secara teknis, semua link bersifat dofollow secara default, dan baru menjadi nofollow ketika Anda menambahkan atribut rel="nofollow" di kode HTML-nya.
Kelihatannya sepele, tapi pemahaman keliru soal dua jenis link ini sering membuat pemilik website salah strategi. Ada yang menolak semua link nofollow karena dianggap “tidak berguna”, padahal sejak update Google tahun 2019 dan 2020, cara kerja keduanya sudah berubah. Di artikel ini kami bedah tuntas: definisi, fungsi, atribut rel="sponsored" dan rel="ugc" yang sering terlewat, cara mengeceknya, sampai kapan sebaiknya pakai yang mana. Topik ini erat kaitannya dengan strategi SEO off-page secara keseluruhan. Sebagai agensi yang menangani puluhan klien SEO setiap bulan, kami sering menemukan kesalahan link attribution yang justru memicu masalah, jadi pembahasan ini kami buat sepraktis mungkin.
Ilustrasi sederhana perbedaan dofollow dan nofollow: link dofollow meneruskan otoritas, link nofollow menahannya
Daftar Isi
ToggleSebelum membahas perbedaannya lebih jauh, mari samakan dulu definisinya. Keduanya adalah istilah yang merujuk pada bagaimana sebuah tautan diperlakukan oleh mesin pencari seperti Google.
Link dofollow adalah tautan yang meneruskan otoritas atau link equity dari website asal ke website tujuan. Saat sebuah situs kredibel menautkan ke halaman Anda dengan link dofollow, Google membaca itu sebagai semacam “rekomendasi” atau suara kepercayaan, yang ikut memengaruhi peringkat halaman Anda di hasil pencarian. Menurut DailySEO, link dofollow inilah yang mentransfer authority website asal ke website yang dituju, dan menjadi tulang punggung strategi link building.
Yang menarik, secara teknis Anda tidak perlu menulis atribut apa pun untuk membuat link dofollow. Setiap tautan biasa otomatis bersifat dofollow. Jadi ketika Anda menulis <a href="https://contoh.com">Contoh</a>, tautan itu sudah dofollow tanpa tambahan kode apa pun.
Link nofollow adalah kebalikannya. Tautan ini diberi instruksi khusus agar mesin pencari tidak mengaitkan website Anda dengan halaman tujuan, atau tidak meneruskan nilai peringkat ke sana. Atribut nofollow diperkenalkan Google pada tahun 2005 sebagai cara melawan spam komentar blog yang merajalela saat itu. Dengan menambahkan rel="nofollow", link tersebut tidak lagi dihitung sebagai “suara” untuk halaman tujuan. Konsep ini menjadi dasar dari banyak strategi link building yang sehat.
Nah, dari pengalaman kami mengaudit profil backlink klien, banyak yang masih mengira “dofollow = bagus, nofollow = sampah”. Padahal kenyataannya tidak sehitam-putih itu, dan kami akan jelaskan kenapa di bagian selanjutnya.
Pro Tip: Istilah “Dofollow” Sebenarnya Tidak Resmi
Google tidak pernah punya atribut rel="dofollow" secara resmi. Istilah “dofollow” hanya muncul di kalangan praktisi SEO untuk menyebut link yang TIDAK punya atribut nofollow. Jadi kalau Anda menulis rel="dofollow" di HTML, itu tidak melakukan apa-apa, mesin pencari mengabaikannya.
Untuk benar-benar memahami perbedaan dofollow dan nofollow, kita perlu melihatnya dari tiga sudut: penulisan HTML, efeknya terhadap mesin pencari, dan dampaknya pada link equity (nilai otoritas yang mengalir antar halaman). Pembagian tiga sisi ini kami rasa paling mudah dipahami, bahkan untuk yang baru belajar SEO.
| Aspek | Link Dofollow | Link Nofollow |
|---|---|---|
| Penulisan HTML | Tanpa atribut khusus (default) | Tambah rel="nofollow" |
| Meneruskan otoritas | Ya | Tidak (sebagai “hint”) |
| Dampak ke peringkat | Langsung dan signifikan | Tidak langsung |
| Di-crawl mesin pencari | Ya | Mungkin (sejak 2020) |
| Contoh penggunaan | Sitasi sumber tepercaya, internal link | Komentar, link berbayar, sumber tak terverifikasi |
Ini perbedaan yang paling kasat mata. Link dofollow ditulis polos tanpa atribut rel yang berkaitan dengan nofollow:
<a href="https://creativism.id/apa-itu-backlink/">Apa itu Backlink</a>
Sedangkan link nofollow ditambahkan atribut rel="nofollow". Kata “rel” sendiri merupakan singkatan dari relationship (hubungan), yang mendefinisikan relasi antara halaman asal dan halaman tujuan:
<a href="https://creativism.id/apa-itu-backlink/" rel="nofollow">Apa itu Backlink</a>
Link dofollow akan diikuti (di-crawl) oleh perayap mesin pencari, sehingga halaman tujuan ikut “kebagian” sinyal positif. Link nofollow, sesuai namanya, dulu sama sekali tidak diikuti. Namun ini berubah, dan kami bahas detailnya di bagian update Google 2020 nanti.
Inilah konsekuensi terpenting. Link dofollow mentransfer link equity ke halaman tujuan, yang berkontribusi pada otoritas domain dan posisi di halaman hasil pencarian (SERP). Link nofollow, secara prinsip, tidak mentransfer otoritas tersebut. Jadi kalau tujuan Anda murni menaikkan peringkat lewat backlink, link dofollow yang jadi incaran utama.
Key Takeaway: Default Itu Dofollow
Ingat aturan emasnya: setiap tautan bersifat dofollow kecuali secara eksplisit diberi atribut nofollow, sponsored, atau ugc. Jadi yang perlu “diberi tanda” justru link nofollow, bukan sebaliknya.
Banyak artikel di luar sana berhenti pada penjelasan dofollow vs nofollow saja. Padahal sejak September 2019, Google menambahkan dua atribut rel baru yang wajib Anda tahu: sponsored dan ugc. Mengabaikan dua ini bisa berisiko, terutama kalau Anda mengelola blog dengan iklan atau kolom komentar.
Menurut pengumuman resmi di Google Search Central, kini ada total empat cara menandai sebuah link, masing-masing dengan makna berbeda:
| Atribut | Fungsi | Kapan Dipakai |
|---|---|---|
| Tanpa atribut (dofollow) | Meneruskan otoritas penuh | Tautan alami ke sumber tepercaya |
rel="nofollow" |
Tidak mengendorse halaman tujuan | Link yang tidak ingin Anda jamin kualitasnya |
rel="sponsored" |
Menandai link berbayar/komersial | Iklan, afiliasi, konten sponsor |
rel="ugc" |
Menandai konten buatan pengguna | Komentar blog, forum, ulasan |
Atribut sponsored digunakan untuk menandai tautan yang muncul karena ada kompensasi finansial: iklan, penempatan berbayar, advertorial, atau link afiliasi. Ini penting sekali. Menurut panduan Google Search Central tentang outbound links, link berbayar wajib menggunakan atribut sponsored atau nofollow. Kalau Anda menulis artikel berbayar atau menaruh link afiliasi tanpa salah satu atribut ini, website Anda berisiko terkena penalti karena dianggap memanipulasi peringkat.
Atribut ugc (singkatan dari User Generated Content) direkomendasikan untuk tautan yang dibuat oleh pengguna, bukan pemilik situs. Contoh paling umum adalah link di kolom komentar blog dan postingan forum. Kabar baiknya, kalau Anda pakai WordPress, kolom komentar otomatis menambahkan atribut ugc dan nofollow sekaligus, seperti dijelaskan Yoast. Jadi Anda tidak perlu repot mengatur manual.
Satu hal yang sering kami tekankan ke klien: ketiga atribut ini boleh digabung. Penulisan seperti rel="nofollow sponsored" atau bahkan rel="ugc sponsored" adalah valid sepenuhnya. Menggabungkan nofollow dengan atribut baru berguna untuk kompatibilitas dengan mesin pencari lain yang belum mengenali sponsored atau ugc.
Empat jenis atribut rel pada link dan contoh penulisan kode HTML-nya
Ini bagian yang paling sering disalahpahami, bahkan oleh sebagian praktisi SEO. Sebelum tahun 2020, link nofollow benar-benar diabaikan Google untuk semua keperluan. Sekarang tidak lagi.
Berdasarkan pengumuman Google, sejak 1 Maret 2020 semua atribut link (nofollow, sponsored, dan ugc) diperlakukan sebagai “hint” atau petunjuk, bukan lagi perintah mutlak. Apa artinya? Google sekarang berhak memilih: dalam kasus tertentu, link nofollow boleh saja ikut di-crawl, di-index, bahkan dipertimbangkan untuk peringkat.
Pergeseran ini punya dua dimensi yang perlu dipisahkan:
Jujur saja, ini mengubah cara kami memandang link nofollow. Dulu kami, dan banyak agensi lain, cenderung mengabaikan peluang backlink dari situs yang memberi link nofollow. Sekarang? Link nofollow dari domain otoritatif seperti Wikipedia, media besar, atau situs pemerintah tetap punya nilai, entah lewat traffic rujukan, brand awareness, atau “hint” tipis yang mungkin diperhitungkan Google. Kami tetap mengejar dofollow sebagai prioritas, tapi tidak lagi menolak nofollow mentah-mentah.
Benchmark: Apa Kata Moz
Menurut analisis Moz, banyak praktisi SEO meyakini Google sebenarnya sudah lama memperlakukan nofollow seperti “hint” jauh sebelum diumumkan resmi. Perubahan 2019-2020 hanya membuat praktik itu menjadi kebijakan terbuka.
Pertanyaan praktis yang paling sering kami terima: “Jadi saya pakai yang mana?” Jawabannya tergantung konteks. Berikut panduan pengambilan keputusan yang kami pakai sendiri saat mengelola konten klien.
sponsored (atau minimal nofollow). Ini bukan opsional, ini cara menghindari penalti.ugc, agar Anda tidak ikut bertanggung jawab atas link yang ditaruh pengunjung.nofollow.Yang sering terlewat: banyak pemilik website lupa menandai link afiliasi mereka. Dari beberapa audit yang kami lakukan, ini termasuk temuan paling umum. Mereka memasang puluhan link afiliasi sebagai dofollow biasa, tanpa sadar itu bisa memicu masalah link scheme di mata Google. Begitu kami tandai ulang sebagai sponsored, risiko penalti langsung berkurang.
Pro Tip: Untuk Link Berbayar, Gabung Saja
Karena tidak semua mesin pencari mengenali sponsored, Yoast merekomendasikan tetap menambahkan nofollow juga. Jadi penulisan teraman untuk link iklan adalah rel="sponsored nofollow". Aman di Google, aman di mesin pencari lain.
Setelah paham teorinya, Anda pasti ingin tahu cara mengecek status sebuah link. Apakah backlink yang Anda dapat itu dofollow atau nofollow? Ada empat metode, dari yang paling sederhana sampai yang paling canggih. Kami urutkan dari yang gratis dan cepat.
Metode paling dasar dan tidak butuh tool tambahan. Caranya:
<a> yang ter-highlight di panel Elements.rel. Kalau ada rel="nofollow" (atau ugc/sponsored), berarti link nofollow. Kalau tidak ada atribut rel sama sekali (atau hanya rel="noopener"), berarti dofollow.Tips dari kami: gunakan Ctrl + F di dalam panel Elements untuk mencari teks anchor link-nya, supaya lebih cepat menemukan tag yang tepat di halaman yang panjang.
Kalau Anda sering mengecek banyak link sekaligus, ekstensi browser jauh lebih efisien. Ada banyak ekstensi gratis seperti “NoFollow” atau “Follow, Nofollow Link Checker” di Chrome Web Store yang otomatis memberi warna pada link: merah untuk nofollow, hijau untuk dofollow. Sekali klik, seluruh link di halaman langsung terkategorisasi tanpa perlu buka kode satu per satu.
Untuk yang butuh data lebih dalam, MozBar adalah ekstensi gratis dari Moz yang bisa menyorot tipe link (followed vs nofollowed, internal vs external) sekaligus menampilkan metrik otoritas halaman. Cocok dipakai saat melakukan riset kompetitor atau audit profil tautan, karena Anda dapat gambaran lengkap dalam satu tampilan.
Untuk menganalisis seluruh profil backlink website, Anda butuh tool khusus seperti Ahrefs, Semrush, atau Screaming Frog. Tool-tool ini meng-crawl semua backlink dan mengkategorikan masing-masing sebagai dofollow, nofollow, sponsored, atau ugc. Inilah pendekatan yang kami pakai saat menyusun laporan SEO bulanan untuk klien, karena memungkinkan kami melihat rasio dan tren profil tautan dari waktu ke waktu. Jika ingin alternatif gratis, ada beberapa tools backlink checker yang bisa Anda coba.
Empat metode mengecek status link: Inspect Element, ekstensi browser, MozBar, dan SEO tools
Sekarang menjawab pertanyaan judul: mana yang unggul? Untuk dampak peringkat secara langsung, jawabannya jelas dofollow. Hanya link dofollow yang mentransfer link equity dan secara konsisten dipertimbangkan dalam algoritma peringkat. Kalau Anda menjalankan kampanye link building, link dofollow dari domain berkualitas adalah target utama.
Tapi di sinilah kami punya pandangan yang sedikit berbeda dari kebanyakan artikel. Mengejar 100% backlink dofollow justru terlihat tidak natural di mata Google. Profil backlink yang sehat secara alami akan punya campuran dofollow dan nofollow. Bayangkan website populer betulan: mereka pasti disebut di komentar, forum, media sosial, dan situs berita, yang sebagian besar memberi link nofollow. Kalau sebuah website tiba-tiba punya 100% backlink dofollow, itu pola yang mencurigakan dan bisa jadi sinyal manipulasi.
Selain itu, nilai sebuah link tidak cuma soal SEO. Link nofollow dari situs dengan traffic tinggi tetap bisa mendatangkan pengunjung nyata ke website Anda. Kami pernah melihat satu mention nofollow dari portal berita yang membawa lonjakan traffic rujukan signifikan, meskipun secara teknis tidak meneruskan otoritas. Jadi pertanyaannya bukan “dofollow atau nofollow”, tapi “apakah link ini relevan dan dari sumber yang baik”.
Kesimpulan praktis kami: kejar dofollow sebagai prioritas, tapi jangan menolak nofollow. Keduanya punya peran dalam profil tautan yang sehat dan kredibel.
Aliran link juice: link dofollow meneruskan otoritas, link nofollow menahannya
Key Takeaway: Bukan Soal Menang-Kalah
Dofollow unggul untuk transfer otoritas, tapi profil backlink terbaik adalah yang terlihat natural, yaitu campuran dofollow dan nofollow dari beragam sumber. Fokus pada relevansi dan kualitas sumber, bukan obsesi mengejar status dofollow semata.
Dari pengalaman mengaudit profil tautan berbagai klien, ada beberapa kesalahan yang berulang kali kami temui. Sebaiknya Anda hindari.
Pertama, menulis rel="dofollow". Seperti sudah dijelaskan, atribut ini tidak ada dan tidak melakukan apa-apa. Cukup tulis link biasa tanpa atribut rel apa pun.
Kedua, lupa menandai link afiliasi dan iklan. Ini yang paling berisiko. Link berbayar yang dibiarkan dofollow bisa dianggap sebagai bagian dari link scheme, dan Google bisa memberi tindakan manual. Pelajari jenis-jenis penalti Google agar lebih waspada. Selalu pakai sponsored atau nofollow untuk link berbayar.
Ketiga, menjadikan semua internal link nofollow. Sebagian orang salah kaprah dan menofollow internal link mereka sendiri dengan harapan “menghemat” link juice. Padahal internal link justru sebaiknya dofollow agar otoritas mengalir merata di dalam situs. Untuk memblokir Google dari halaman tertentu di situs sendiri, gunakan aturan disallow di robots.txt, bukan nofollow.
Keempat, membeli backlink dofollow murah secara massal. Ini godaan klasik. Kami sendiri di masa-masa awal pernah menyaksikan efek buruknya: backlink dofollow dari PBN (Private Blog Network) murah justru bisa membuat website kena penalti, bukan naik peringkat. Lebih baik sedikit backlink berkualitas daripada banyak backlink berisiko. Kalau Anda butuh backlink, pastikan dari sumber yang relevan dan beretika, seperti yang kami terapkan dalam layanan jasa backlink berkualitas kami.
Perbedaan utamanya adalah link dofollow meneruskan otoritas (link equity) ke website tujuan dan memengaruhi peringkat SEO, sedangkan link nofollow memberi sinyal ke mesin pencari untuk tidak meneruskan otoritas tersebut. Secara teknis, dofollow adalah default, sementara nofollow perlu ditambahkan atribut rel=”nofollow”.
Tidak. Sejak update 2019-2020, Google memperlakukan nofollow sebagai “hint”, artinya bisa saja dipertimbangkan untuk peringkat. Selain itu, link nofollow dari situs otoritatif tetap bermanfaat untuk traffic rujukan, brand awareness, dan menjaga profil backlink terlihat natural.
Tambahkan atribut rel=”nofollow” ke dalam tag anchor, misalnya: <a href=”https://contoh.com” rel=”nofollow”>teks link</a>. Untuk link berbayar gunakan rel=”sponsored”, dan untuk komentar/forum gunakan rel=”ugc”.
Keduanya diperkenalkan Google pada 2019. Atribut sponsored menandai link berbayar seperti iklan dan afiliasi, sedangkan ugc menandai link dari konten buatan pengguna seperti komentar blog dan postingan forum. Atribut-atribut ini boleh digabung, contohnya rel=”sponsored nofollow”.
Cara termudah adalah klik kanan pada link, pilih Inspect, lalu cari atribut rel pada tag a. Jika ada rel=”nofollow” berarti nofollow, jika tidak ada berarti dofollow. Alternatif lain pakai ekstensi browser highlighter, MozBar, atau SEO tools seperti Ahrefs dan Semrush.
Internal link sebaiknya dofollow agar otoritas mengalir merata di dalam website dan membantu Google memahami struktur situs. Hindari menofollow internal link sendiri. Untuk memblokir halaman tertentu dari Google, gunakan aturan disallow di robots.txt.
Tidak ada angka pasti, tapi profil backlink yang natural pasti memiliki campuran keduanya. Website yang punya 100% backlink dofollow justru terlihat tidak wajar di mata Google. Fokuslah pada relevansi dan kualitas sumber link, bukan mengejar rasio tertentu secara paksa.
Memahami perbedaan dofollow dan nofollow adalah fondasi penting dalam strategi SEO off-page. Intinya: link dofollow meneruskan otoritas dan jadi prioritas untuk menaikkan peringkat, sementara link nofollow (beserta variannya, sponsored dan ugc) berperan menjaga profil backlink tetap natural dan menghindari penalti. Sejak Google mengubah nofollow menjadi “hint” pada 2020, batas antara keduanya tidak lagi sekaku dulu, jadi pendekatan terbaik adalah mengejar dofollow tanpa menolak nofollow.
Yang terpenting, jangan terjebak mengejar status dofollow semata. Relevansi, kualitas sumber, dan kealamian profil tautan jauh lebih menentukan keberhasilan SEO jangka panjang. Kalau Anda merasa kewalahan mengelola strategi backlink dan optimasi on-page sekaligus, tim Creativism siap membantu lewat layanan jasa SEO yang fokus pada pertumbuhan organik yang berkelanjutan, bukan jalan pintas berisiko. Punya pertanyaan soal profil backlink website Anda? Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan kami.
Creativism menyediakan layanan Digital Marketing untuk business owner hingga perusahaan besar yang mencari partner untuk menghandle social media, website, SEO, dan menyediakan seluruh kebutuhan promosi hingga IT Solution untuk bisnis Anda.
© 2026, Designed by Creativism. All Rights Reserved.
[…] Baca Juga: Perbedaan Backlink NoFollow dengan DoFollow […]
[…] Baca Juga: Perbedaan Backlink NoFollow dengan DoFollow […]
[…] Baca Juga: Perbedaan Backlink NoFollow dengan DoFollow […]
[…] Baca Juga: Perbedaan Link DoFollow dan NoFollow Lengkap […]